Selasa, 02 Desember 2014

SELAMAT BERTUGAS KAKANWIL KALBAR

Senin, 1 Desember 2014, 10:28 – www.kalbar.kemenag.go.id
 
Artikel:
 
Oleh: Sumiati. J, S.Sos.I, M.Si*





Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melantik Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Kalbar yang baru. Siapakah pejabat nomor satu di jajaran Kemenag Kalbar itu? Dialah Drs. H. Syahrul Yadi, M.Si, putra Kapuas Hulu yang sebelum dilantik adalah Kepala Kantor Kemenag Bengkayang. Sebagai pegawai Kemenag, saya mengucapkan Selamat dan Sukses untuk Pak Syahrul, Selamat Bertugas! 

Sebelum pelantikan di Operation Room Kemenag RI Jakarta, 27 Nopember 2014, banyak muncul spekulasi, siapa yang bakal jadi nakhoda baru Kemenag Kalbar. Sebagai pegawai biasa, saya hanya bisa mendengar. Karena, merasa tidak memiliki kewenangan dan hak suara seperti halnya Pemilu. Kalau setiap pegawai memiliki hak suara untuk memilih kepala Kemenag Kalbar, tentu lain persoalannya, dan pastinya akan seru, hehehe… 

Saya tak bisa membayangkan kalau seluruh pegawai Kemenag punya hak suara. Pasti para kandidat Kakanwil memiliki tim sukses. Tim sukses inilah yang melakukan sosialisasi ke seluruh kantor Kemenag sampai ke KUA. Sebagai pemilik suara tentu saya tidak sembarangan memilih. Saya pasti memilih calon Kakanwil yang bisa membawa keharmonisan kerja, menjunjung tinggi semangat toleransi, profesional dan proporsional dalam penempatan pegawai (bukan like and dislike), peduli, dan menjaga nama baik institusi, dan bisa menjalin kerja sama dengan instansi pemerintah maupun swasta. Lebih penting lagi, menjadikan Kemenag lebih dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat. 

Sayang, itu semua tidak ada. Saya dan seluruh pegawai di Kemenag hanya pasrah apa yang diputuskan oleh Menag. Sebagai orang Islam, saya selalu berpikiran positif (husnuzzon). Apapun yang telah diputuskan oleh Menag, itulah yang terbaik buat Kemenag Kalbar. Karena, sebelum memutuskan siapa Kankanwil, Menag pasti sudah mempelajari, membaca track record dari kandidat yang telah diajukan. 

Sampai pada klimaknya, 27 Nopember 2014, saya ditelepon suami yang kebetulan jurnalis dapat informasi bahwa Kakanwil Kemenag Kalbar sedang dilantik oleh Menag di Jakarta. Suami bilang coba di-crosscheck, takut informasinya hoax (palsu). Sayapun mencoba menghubungi salah satu Humas Kanwil via sms, dan dibenarkan bahwa Pak Syahrul memang terpilih sebagai punggawa baru Kemenag Kalbar.

Tentu saja saya sangat gembira mendengar kabar itu. Tak ayal, saat itu juga saya informasikan kepada beberapa teman di kantor. Berarti, jelas sudah siapa Kakanwil yang baru. Dia adalah putra terbaik Kalbar, Drs. H. Syahrul Yadi, M.Si. Saya berpikir, terpilihnya Pak Syahrul sebagai Kakanwil yang baru tentulah sudah menjadi rencana dan rahasia Allah SWT. Dan itu pastilah yang terbaik untuk Kemenag Kalbar. Menag pasti menitipkan amanah besar kepada beliau untuk membawa Kemenag lebih dihormati dan menjamin keberlangsungan toleransi beragama dan peningkatan SDM Kalbar. 

Saya kutif sambutan Menag saat melantik Kakanwil Kalbar beserta pejabat eselon II lainnya di Operation Room Kemenag RI, 27 Nopember 2014, yang sempat dipublikasikan di situs www.kemenag.go.id.

Dalam sambutannya, Menag mengingatkan para pejabat yang baru dilantik bahwa pelantikan saat ini dilaksanakan dalam suasana di mana revolusi mental menjadi spirit dalam pelaksanaan tugas pemerintahan. Menag meminta, revolusi mental dimaknai sebagai proses merubah mindset, kultur, budaya, serta gaya kepemimpinan pejabat aparatur Kemenag.

“Menjadi pejabat bukan untuk diistimewakan apalagi minta diistimewakan,” tegas Menag. Menag juga kembali menyampaikan lima nilai budaya kerja Kementerian Agama (integritas, profesionalitas, inovatif, tanggung jawab, dan keteladanan), dan meminta kepada seluruh jajaran pimpinan agar menjadi contoh terdepan.

“Saya meminta kepada seluruh jajaran pimpinan agar menjadi contoh terdepan dalam pelaksanaan lima nilai tersebut. Pemimpin sehebat apapun tidak akan berhasil dalam mendorong kemajuan organisasi kalau hanya sebatas bicara, tanpa praktik dari diri sendiri,” tambah Menag.

“Satu kata dan perbuatan adalah kunci sukses kepemimpinan di semua level. Sebagaimana sabda Nabi, ibda’ binafsik, agar kita memulai dari diri sendiri,” imbuh Menag. 

Beberapa waktu sebelumnya, Menag juga mengatakan, lima nilai budaya kerja tersebut akan menjadi acuan bersama setiap pegawai di Kemenag, mulai dari atasan hingga bawahan. 

Dijelaskan Menag, integritas dapat dimaknai sebuah konsep yang menunjukan konsistensi antara tindakan dengan nilai dan prinsip. Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang. 

Profesionalitas mencerminkan kompetensi dan keahlian. Pegawai yang professional harus dapat mengemban amanahnya dengan baik guna memperoleh proses dan hasil yang optimal. 

Nilai berikutnya yaitu inovasi. Menurut Menag seringkali dalam bekerja pejabat terjebak pada rutinitas. Akibatnya tidak produktif bahkan berjalan monoton. Maka nilai inovasi hadir untuk menemukan hal-hal baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kemudian tanggung jawab dan keteladanan menjadi dua nilai wajib. Kita harus mewujudkan keteladanan, penting karena kita Kementerian Agama,” kata Menag. 

Sengaja saya kutif, paling tidak untuk mengingatkan saya sendiri sebagai pegawai Kemenag. Sebagai bawahan tentu saya harus mengimpilikasikan kelima nilai tersebut. Saya yakin apabila kelima nilai budaya kerja itu diimplementasikan oleh seluruh pegawai, Kemenag yang kita cintai pasti akan menjadi pelayan masyarakat yang prima. Apa yang dicita-citakan oleh institusi yang bermotto “ Ikhlas Beramal” ini akan terwujud dan memberikan pengaruh besar pada masyarakat, bangsa, negara, maupun Agama.

Selamat bertugas untuk Kepala Kantor Wilayah Kemenag Kalbar, Drs. H. Syahrul Yadi, M.Si. Mohon maaf bila ada kata-kata yang menyinggung. Tulisan ini semata-mata bentuk rasa hormat saya untuk Kakanwil. Semoga tulisan ini bisa memberikan motivasi bagi kita semua.*(Sumiati/Pelaksana Seksi PAI Kantor Kemenag Kota Pontianak).

Senin, 01 Desember 2014

SYARAT PENCAIRAN TUNJANGAN SERTIFIKASI GPAI NON PNS



P E N G U M U M A N


Guna memperlancar proses pencairan Tunjangan Profesi/Sertifikasi Periode Juli s.d Desember 2014 kepada Guru PAI NON PNS Kota Pontianak, yang pembayaran Tunjangan Profesinya melalui DIPA Kanwil Kemenag Kalbar, diharapkan untuk mempersiapkan persyaratan sbb:

1.  Asli Surat Pernyataan Diri masih mengajar (jam mengajar) Bermaterai Rp. 6.000,- (Periode Juli s.d Desember 2014, tertanggal 27 Desember 2014).
2.   Asli Surat Keterangan Melaksanakan Tugas (SKMT) Mengajar 24 Jam dari Kepala Sekolah dan diketahui Pengawas (Periode Juli s.d Desember 2014, tertanggal 15 Desember 2014).
3.  Foto Copy SK Pengangkatan dari Bupati/Walikota/Yayasan pertama dibawah tahun 2005 dan SK Terakhir) yang dilegalisir.
4.         Foto Copy SK Pembagian tugas (Semester Ganjil Th. Pelajaran 2014/2015) yang dilegalisir.
5.     Asli Surat Keterangan Beban Kerja (SKBK) dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak (Periode Juli s.d Desember 2014, tertanggal 31 Desember 2014).
6.         Foto Copy Sertifikat Pendidik yang sudah dilegalisir LPTK yang menerbitkan.
7.         Foto Copy Rekening Bank Kalbar Syariah yang masih aktif.
8.         Foto Copy NUPTK
9.         Foto Copy NPWP
10.     Foto Copy Ijazah terakhir, dilegalisir.
11.     Foto Copy SK NRG, dilegalisir Kasi. PAI Kemenag Kota Pontianak
12.     Laporan Bulanan.
13.     Materai Rp. 6000,-satu lembar tiap penerima.

                     Laporan dijilid  Spiral Hitam / Jilid Batang. Dibuat 2 (dua) rangkap, disusun sesuai urutan dan masukkan dalam Map Kertas Biola berwarna sbb:
a.    SD                       : Kuning
b.    SMP                    : Hijau 
c.    SMA/SMK        : Merah Tua      
                  
Semua persyaratan tersebut di atas diserahkan kepada Seksi Pendidikan Agama Islam paling lambat  tanggal 4 Desember 2014. Bagi guru yang tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut diatas, proses pencairan tunjangan profesinya menjadi tanggung jawab yang bersangkutan.


Pontianak, 2 Desember 2014

An. Kepala
Kasi. Pendidikan Agama Islam

TTD

Drs. H. Ahmad Hanafi, M.Si
NIP.19690920 199603 1 003

Sabtu, 29 November 2014

25 KUNTUM BUNGA UNTUK GURU AGAMA


Sabtu, 29 November 2014, 15:19 - www.kalbar.kemenag.go.id



Hari Guru dan HUT PGRI Ke-69 tanggal 25 Nopember 2014 yang lalu, menyisakan kenangan indah untuk semua guru di SD Negeri 34 Pontianak Barat. Pasalnya dihari tersebut semua guru mendapat hadiah spesial dari para siswa berupa bunga.

Kenangan yang tak terlupakan tersebut dialami langsung salah satu Guru Agama Katolik Kemenag Kota Pontianak, Veronika, S.Ag. Tidak tanggung-tanggung, ibu guru yang pernah ditugaskan di Kabupaten Bengkayang ini menerima 25 kuntum bunga mawar dan aneka bunga lainnya. 

“Saya dapat 25 kuntum bunga dari anak-anak. Tapi, ada salah satu Guru Agama Islam yang dapat bunganya paling banyak. Ada bunga kristal, ada juga bunga plastik. Yang tidak ada bunga bank aja…,” candanya sambil tertawa ketika ditemui di Kemenag Kota Pontianak, Jumat (28/11/2014).

Mendapat pemberian bunga tersebut, Ia mengaku sangat senang dan bahagia. Karena menurutnya pemberian bunga merupakan salah satu bentuk perhatian murid-murid kepada gurunya. 

“Pemberian bunga adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang murid kepada gurunya.
Dan itu juga salah satu bentuk perhatian dari murid-murid kepada kami sebagai guru,” katanya dengan wajah berbinar. 

Guru yang diangkat Kemenag tahun 2000 ini mengatakan bahwa kejadian ini baru pertama kali terjadi di sekolahnya. Karena tahun-tahun sebelumnya semua guru diundang untuk mengikuti upacara/apel gabungan HUT PGRI di Gor Pontianak. 

“Tahun ini apel gabungan dilaksanakan lebih cepat satu minggu, sesuai instruksi Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak. Sehingga pas tanggal 25 Nopember, kita mengadakan upacara di sekolah masing-masing,” paparnya. 

SD yang beralamat di Jalan M. Saad Ain Perumnas I, Pontianak Barat tersebut saat ini dipimpin oleh Nurmah, S.Pd. Memiliki 40 Guru, termasuk guru honorer. Guru Agama Islam lima orang, Guru Agama Katolik dan Kristen masing-masing satu orang. Selebihnya guru mapel umum.*(Sumi/Ptk)

KEMENAG PONTIANAK UCAPKAN SELAMAT ATAS PELANTIKAN KAKANWIL KEMENAG KALBAR

Jumat, 28 November 2014, 20:47 – www.kalbar.kemenag.go.id


Akhirnya setelah sekian lama menanti siapa yang akan menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalbar terjawab sudah. Kamis (27/11/2014) di Operation Room Kemenag RI, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melantik Drs. H. Syahrul Yadi, M.Si sebagai Kakanwil Kemenag Kalbar yang baru. 

Kepala Kantor Kemenag Kota Pontianak, Drs. H. Ja’far. A, M.Si ditemui di ruang kerjanya, Jumat Pagi (28/11/2014) menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas dilantiknya Kakanwil Kemenag Kalbar tersebut.

“Pertama-tama atas nama Kepala Kantor Kemenag Kota Potianak, saya mengucapkan selamat kepada Bapak Kakanwil Kemenag Kalbar, Drs. H. Syahrul Yadi, M.Si, yang baru saja dilantik oleh Menteri Agama kemarin. Semoga dengan pelantikan beliau bisa membawa perubahan lebih baik di institusi Kemenag Kalbar,” harap Ja’far.

Lebih lanjut Ja’far menyampaikan, Kemenag Kota Pontianak siap mendukung program Kakanwil Kemenag Kalbar ke depan. Bahkan ia sudah melakukan rapat internal bersama Kasubag TU serta para Kasi dan Penyelenggara di lingkungan Kemenag Kota Pontianak. 

“Pagi tadi saya sudah mengadakan rapat internal bersama Kasubag TU serta para Kasi dan Penyelenggara. Intinya, saya meminta kita semua mendukung Bapak Kakanwil yang baru saja dilantik oleh Menteri Agama,” papar salah satu Tokoh NU Kalbar ini. 

Pejabat nomor satu di Kemenag Kota Pontianak ini juga mendoakan semoga Kakanwil yang baru selalu diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah SWT dalam melaksanakan tugas mulia namun berat tersebut. Apa lagi Kemenag saat ini menjadi sorotan dengan raport merah. 

“Mudah-mudahan kita bisa bangkit lagi untuk membangun marwah Kemenag. Kita masih punya harapan untuk kepemimpinan beliau (red, Syahrul Yadi). Karena usia beliau masih muda dan pendidikan beliau pun menunjang. Sekali lagi selamat,” kata Alumnus Program Magister Ilmu Sosial Untan Pontianak ini bijak. 

Mantan Kepala Kemenag Singkawang ini juga mengatakan bahwa beliau juga sudah menyampaikan ucapan selamat secara langsung kepada Kakanwil Kemenag Kalbar via Handphone, Kamis malam, 27 Nopember 2014.

“Alhamdulilah, saya sudah mengucapkan selamat kepada beliau tadi malam. Beliau sangat senang dan mengucapkan terima kasih. Tadi malam beliau masih di Jakarta, dan pagi ini beliau akan pulang ke Pontianak,” cerita Ja’far.

Disinggung sebagai sesama alumni di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Ja’far mengatakan merasa sangat bahagia sekaligus bangga. “Beliau adalah kader terbaik PMII,” tutur Ja’far dengan semangat. 

Sebagai sesama sahabat pergerakan di Majelis Pembina PMII, Ja’far punya pesan khusus kepada Kakanwil baru. Karena menurutnya, sebagai sesama sahabat sudah seharusnya untuk saling mengingatkan. 

“Jabatan ini adalah amanah. Untuk itu, senantiasa mohon petunjuk Allah. Karena tugas Kakanwil itu berat. Melayani semua agama, bukan hanya agama Islam saja. Sebagai pejabat (red, Kakanwil) harus mau membuka diri. Mau menerima kritikan dan masukan, baik positif maupun negatif dalam rangka menunaikan tugas mulia tersebut,” pesan suami dari Hj. Ratna Iriani ini. 

Kemudian, lanjut Ja’far, senantiasa bertawakkal, serahkan semua kepada Allah. Terakhir, karena Kakanwil termasuk panutan, menjadi tokoh, membawahi sekian ribu orang, banyak harapan-harapan yang diberikan kepada kita semuanya, harus disesuaikan. Intinya harus pandai menempatkan diri sebagai orang tua. 

“Sekali lagi, atas nama Kepala Kantor Beserta Keluarga Besar Kemenag Kota Pontianak, Saya mengucapkan Selamat kepada Bapak Drs. H. Syahrul Yadi, M.Si yang dilantik sebagai Kakanwil Kemenag Kalbar. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan kepada Bapak. Dan kami siap mendukung program Bapak,” ucap H. Ja’far dengan tulus.*(Sumi/Ptk)

SEANDAINYA TIDAK ADA GURU

Rabu, 26 November 2014, 09:03 – www.kalbar.kemenag.go.id
ARTIKEL: 
Oleh : Sumiati, J, S.Sos.I, M.Si*



Hampir dua tahun sudah saya bekerja dan berurusan langsung dengan Guru. Karena kebetulan saya ditempatkan di Seksi Pendidikan Agama Islam (PAI) Kantor Kemenag Kota Pontianak. Setiap hari tamu yang datang kebanyakan guru agama. Baik yang diangkat oleh Dinas maupun Kemenag. 

Semakin lama, saya dan teman-teman semakin terbiasa menghadapi para guru dengan berbagai karakternya. Terkadang kami bercanda di ruangan membicarakan tingkah laku dan kebiasaan guru yang kita layani setiap hari. Suatu hari saya pernah berkata kepada teman-teman, “ternyata tidak hanya guru yang harus mengadapi murid-muridnya dengan segala tingkah polahnya. Kita di Seksi PAI pun ikut juga merasakan gimana menghadapi tingkah laku guru dengan berbagai karakter (hehehe),”.

Tanggal 25 Nopember 2014, bertepatan dengan hari guru dan HUT PGRI ke-69, saya merasa terpanggil untuk membuat tulisan yang saya persembahkan untuk semua guru di seluruh Kalbar. Semoga apa yang akan saya tulis tidak membuat para guru menjadi besar kepala. Melainkan bisa memotivasi diri untuk menjadi pendidik yang jauh lebih baik lagi ke depannya.

Guru adalah sosok yang hendaknya bisa digugu dan ditiru. Artinya guru harus bisa menjadi teladan dalam segala hal. Baik pikiran, ucapan maupun perbuatannya. Seorang guru idealnya menjadi sosok yang seharusnya bisa menjadi panutan dan contoh yang baik bagi seluruh anak didiknya, bahkan lingkungannya.

Karena terkadang masyarakat tidak mau tahu, yang mereka pahami adalah bahwa seorang guru haruslah berprilaku baik. Guru haruslah sopan. Guru haruslah menjadi panutan dan teladan, dan masih banyak lagi hal-hal baik yang terlanjur disematkan masyarakat kepada sosok guru.

Totalitas dan kesempurnaan, mungkin itu bahasa yang mendekati dengan keinginan masyarakat tersebut. Pada hal, guru juga manusia biasa. Dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional atau UU Guru dan dosen disebutkan bahwa guru itu pada dasarnya harus profesional, berkarakter atau bermartabat. Itu berarti guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pada siswa.

Lebih dari itu, guru harus memerankan fungsi dasarnya sebagai pendidik. Menjadi pendidik berarti sama juga menjadi teladan bagi anak didiknya. Guru dan murid adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketika muridnya berprestasi/pintar serta berprilaku baik, guru mendapat pujian. Sebaliknya, ketika muridnya tidak memiliki prestasi yang bisa dibanggakan, guru pun akan menjadi pihak yang dipersalahkan. 

Guru yang baik, bertanggung jawab, penuh kasih sayang, selalu peduli, penuh motivasi, hampir bisa dipastikan akan melahirkan murid atau siswa sesuai harapan. Sebaliknya, guru yang hanya melepaskan kewajiban saja, begitu selesai ngajar, tidak peduli lagi dengan murid-muridnya, akan melahirkan murid yang jauh dari harapan. Dalam pribahasa dikenal dengan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. 

Prilaku guru, mulai dari ucapan, perbuatan, sampai perasaan akan berpengaruh besar pada murid-muridnya. Dalam konteks ini, peranan guru sangat sentral dalam dunia pendidikan. Fasilitas pendidikan selengkap atau semewah apapun, tidak memberikan pengaruh signifikan apabila tidak ditunjang kualitas guru. Banyak sekolah miskin fasilitas, tapi banyak melahirkan murid-murid hebat. Kenapa? Karena ditunjang oleh guru yang secara ikhlas dan bertanggung jawab mengajar, membina, dan mendidik murid-muridnya.

Pemerintah telah menerapkan sertifikasi guru. Tujuan utamanya adalah agar guru memiliki kompetensi. Mereka tidak lagi digaji rendah, melainkan tertinggi bila dibandingkan dengan pegawai lain. Semua itu ingin menjadikan guru benar-benar konsentrasi dengan tugasnya. Ketika guru sudah mencintai profesinya, ia selalu meningkatkan kualitas dirinya. Ia tidak merasa puas dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Setiap hari ia akan memperbaharui pengetahuannya baik melalui internet, membaca buku, atau diskusi. Bahkan mengikuti seminar yang berkaitan dengan pendidikan. Bukan hanya itu, ia juga melatih diri membuat karya tulis sebagai perwujudan buah pemikirannya.

Bukanlah guru yang baik, jika dia tidak perduli dengan perkembangan anak didiknya. Contoh, ketika ada muridnya terlibat tawuran, ia tidak peduli. “Ah, itukan terjadi di luar lingkungan sekolah. Bukan tanggung jawab guru,” dalih guru yang tak bertanggung jawab. Ketika ada murid suka bolos sekolah, lalu main game online di warnet, “Ah, dasar anaknya bandel. Suka tak mendengarkan nasihat guru,” kata guru menyepelekan masalah.

Ingat, guru tidak sekadar menstransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga mendidik dan membina mental anak didiknya. Ketika ada murid atau siswa terlibat tawuran, melakukan bulli terhadap junior, sering bolos, guru tidak boleh lepas tanggung jawab. Justru anak-anak seperti itu menjadi tanggung jawab guru – Tentunya juga mejadi tanggung jawab orang tuanya.

Seorang guru dikatakan sukses apabila berhasil mengubah atau membina seorang anak bodoh (secara akademik) menjadi pintar. Dari belum bisa berhitung menjadi bisa. Dari anak bandel, menjadi anak penurut. Dari anak miskin menjadi orang hebat. Itulah kebanggaan sejati seorang guru ketika murid-muridnya berhasil menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama. Sebaliknya apabila ada murid-muridnya bandel malah menjadi lebih bandel, murid bodoh makin lebih bodoh, murid suka bolos malah berhenti, itulah kegagalan seorang guru.

Peranan guru (baik formal maupun informal) sangat penting bagi pembinaan mental. Apa jadinya dunia ini tanpa guru. Pasti gelap gulita. Siapa yang akan mengajarkan orang membaca, berhitung, mengenalkan ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Apa jadinya dunia tanpa guru. 

Pastilah tidak ada manusia menginjakkan kaki di bulan, tidak ada teknologi, tidak kenal internet, tidak ada politisi, dokter, dan tidak ada berbagai profesi lainnya. Siapapun orang hebat yang ada di dunia ini, tidak lepas dari sentuhan seorang guru. 

Guru menjadi segalanya. Jangan remehkan profesi guru. Jangan pandang sebelah mata guru. Jangan abaikan kehidupan mereka. Orang tua kita sering mengajarkan, “Hormatilah guru, kamu akan mendapatkan berkahnya!”. 

Selamat Hari Guru. Jasa-jasamu tidak bisa dibayar dengan harta apapun di dunia ini. Hanya Tuhan yang bisa membalasnya. Terima kasih untuk semua guru atas dedikasi dan pengabdianmu.*(Pelaksana Seksi PAI Kemenag Kota Pontianak).

IAIN PONTIANAK USULKAN BANTUAN BEASISWA S1 BAGI GURU PAI


Selasa, 25 November 2014, 16:35 – www.kalbar.kemenag.go.id





Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak memberikan kesempatan untuk Guru PAI di tingkat TK, SD, SMP dan SMA/SMK yang belum memiliki Ijazah S1 untuk diikutsertakan pada Program Bantuan Beasiswa Peningkatan Kualifikasi Sarjana Strata Satu (S.1).

Program tersebut diketahui melalui surat dari Dekan Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak, Dr. Hj. Lailial Muhtifah, M.Pd Nomor: Sti.22/PP.00.9/469/2014 tanggal 21 Nopember 2014, tentang permohonan untuk mengisi form beasiswa kualifikasi bagi Guru PAI umum.

Surat tersebut disampaikan langsung oleh staf TU FTIK IAIN Pontianak, Syarif M. Redha, SS ke Seksi PAI Kemenag Kota Pontianak, Senin sore (24/11/2014). Kedatangan Reza (sapaan akrab untuk M. Redha) diterima pelaksana Seksi PAI, Sumiati.

Selain menyampaikan surat, Reza juga menyampaikan Daftar Calon Mahasiswa Program Bantuan Beasiswa Peningkatan Kualifikasi Sarjana S1 untuk wilayah Kota Pontianak. Daftar tersebut belum terisi dengan lengkap. Sehingga Operator Seksi PAI diminta untuk melengkapi data yang masih belum terisi.

“Kami sudah ke Kanwil Kemenag Kalbar. Tapi menurut informasi di sana, lebih baik langsung saja ke Kemenag Kota Pontianak. Supaya Data yang diperlukan bisa lebih cepat,” kata Reza. 

Daftar calon Mahasiswa Program Bantuan Beasiswa S1 IAIN Pontianak tersebut sebenarnya pernah diusulkan dari Seksi PAI beberapa waktu sebelumnya. Dari daftar tersebut ada 87 Guru PAI Kota Pontianak yang akan disulkan untuk program bantuan beasiswa Peningkatan Kualifikasi Sarjana S1.

Menurut Reza, Selain Kota Pontianak ada beberapa Kabupaten/Kota di Kalbar yang juga akan dihubungi via telpon dan email. Antara lain Kota Singkawang dan Kabupaten Landak yang telah mengusulkan nama-nama Guru PAI yang belum S1.*(Sumi/Ptk)

KONSEKUENSI GURU PENERIMA BEASISWA, TUNJANGAN SERTIFIKASI DIHENTIKAN

Jumat, 21 November 2014, 15:11 – www.kalbar.kemenag.go.id



Beberapa Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Kota Pontianak yang awalnya berniat untuk mengikuti Seleksi Beasiswa S2 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, akhirnya mengundurkan diri. Kabarnya bagi penerima beasiswa, otomatis tunjangan sertifikasinya dihentikan selama yang bersangkutan mengikuti perkuliahan. 

Kepastian dihentikannya tunjangan sertifikasi atau Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi penerima beasiswa disampaikan salah satu Guru PAI Kota Pontianak, Drs. Nurul Muhson. Beliau mengatakan sudah berkonsultasi dan bertanya langsung dengan teman-temannya di Kemenag pusat. 

“Saya sudah bertanya langsung dengan teman-teman di Kemenag Pusat tentang penerima beasiswa S2. Memang benar kalau guru penerima beasiswa tunjangan sertifikasinya dihentikan sementara waktu. Sampai yang bersangkutan bisa menunjukkan bukti ijazah S2-nya,” kata Nurul Muhson ketika bertandang di Seksi PAI Kemenag Kota Pontianak, Kamis (20/11/2014). 

Guru PAI SMP Negeri 1 Pontianak ini pun masih mempertimbangkan apakah akan mengikuti seleksi beasiswa di IAIN Pontianak ataukah mengubur impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

“Jujur saja, sebenarnya saya sangat berminat melanjutkan S2. Tapi, tentu saya harus komunikasikan dulu dengan keluarga,” katanya bijak. 

Sementara Guru PAI SMK Negeri 8 Pontianak, Nurmi, S.Pd.I sudah memantapkan hati untuk mengikuti seleksi beasiswa S2. Karena dia sudah mendapat izin dari suaminya juga dari kepala sekolahnya untuk mengikuti program tersebut.

“Insya Allah saya siap dengan segala konsekuensinya. Kan Cuma dua tahun tunjangan sertifikasinya dihentikan. Setelah itu akan dibayar seperti biasa,” kata Nurmi dengan mantap saat mengambil rekomendasi yang diberikan Kemenag untuk mendaftar di IAIN Pontianak. 

Alumnus Jurusan PAI, STAIN (sekarang, IAIN) Pontianak ini pun bertekad akan tetap melanjutkan S2-nya dengan biaya pribadi, seandainya tidak lulus seleksi. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Program IAIN Pontianak memberikan kesempatan kepada Guru PAI dan Pengawas di lingkungan Kemenag Kota Pontianak untuk mengikuti Seleksi Calon Peserta Beasiswa Kualifikasi S2. 

Waktu pendaftaran calon peserta dimulai tanggal 17-21 Nopember 2014. Sementara seleksi/tes dilakukan pada 24 Nopember 2014 di Pascasarjana IAIN Pontianak. Sedangkan pengumuman kelulusan pada tanggal 25 Nopember 2014. Pendaftaran bisa dilakukan langsung di Gedung Pascasarjana IAIN Pontianak pada hari kerja atau melalui email: tifabest@yahoo.com.

Adapun persyaratan calon peserta antara lain adalah Guru/Pengawas PAI pada sekolah (TK/PAUD/SD/SMP/SMA/SMK); Berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS); Memiliki pengalaman kerja minimal 4 tahun; Serta berusia maksimal 48 tahun. 

Program beasiswa ini merupakan Program Bantuan Beasiswa S2 GPAI/Pengawas (Baru) tahun 2014 dari Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI. Sementara IAIN Pontianak sebagai penyelenggara program tersebut.*(Sumi/Ptk)